Opini : Demokrasi Hantu Politik


Lagi-lagi entah mengapa jari-jari ini ingin berkata lewat sebuah tulisan yang mungkin hanya itu yang bisa dilakukan. semenjak mendengar itu minggu yang lalu, ya sebenarnya sudah lumayan lama info ini berkembang, mengenai perkataan-perkataan politisi negeri ini. banyak yang beranggapan bahwa itu tidak pantas lah, tidak layak untuk diucapkan seorang Presiden lah, inilah, itulah, ah semua kayak Vangk**, haha.kita sudah hampir sadar bahwa semua yang dicapai untuk kebaikan akan selalu membutuhkan perbuatan yang layak dan mulia, kita sepakati itu. namun yang menjadi masalah adalah ketika sesuatu yang kurang layak di bahas dalam tingginya ranah politik yang kita miliki ini tidak sepadan sebenarnya jika hal yang sifatnya sensitif (yang harusnya tidak begitu sensitif) menjadi sesuatu yang seolah-olah merupakan hal yang sangat penting untuk dibahas.


Kita bangsa yang besar, pembahasannya jangan sekecil ejekan atau selebar ruang kelas 5 SD lah. kabar-kabar terus beredar seperti menjalar dengan menyinar layaknya mulur yang terus berkoar-koar. ini datang dari salah satu petinggi negeri, mengenai Politik dungu yang sering di sampaikan oleh Rokcy gerung, sang pemerhati poitik yang cerdas menanggapi masalah Demokrasi negeri. saat seseorang yang tidak mempunyai peran penting atau hanya sebagai penonton dalam menanggai masalah yang terjadi di negeri ini maka timbul sebuah keganasana mendadak yang tidak habis pikir kemana arahnya dan kemana tujuan narasi yang ingin di sampaikan. aku ini misalnya, ketika mendengar tokoh politik mengatakan sesuatu yang serasa-rasanya atau sekiranya tidak pantas mengatakan sesuatu yang sifatnya mencerminkan hal negatif, dalam arti ini mengenai bagaiman seseorang berpikir cerdas dan bijak yang mempunyai nilai lebih dan layak untuk dijadikan panutan. kita hidup berdemokrasi diantara janji-janji yang sering kali tidak ditepai. menjunjung tinggi nilai yang terdapat dalam birokrasi, dan menjelma menjadi buta pada saat sudah merasa layak untuk tidak menaggapi rakyat.sementara itu seakan-akan pemaran aktor yang terhubung lansung atau sudah ada dalam ranah politik, menjadi tidak semakin peduli jika sudah menjabat. banyak kita temui yang seperti ini. ya memang tidak semuanya, tapi kita bisa bandingkan mana yang memang benar-benar Peduli terhadap Khayalak ramai, dan berjuang demi kesejahteraan rakyat.Dalam Politik Indonesia yang akan menghadapi masa-masa Pemilu di tahun depan, sudah banyak sekali tampak pelampiasan-pelampiasan yang mungkin terlalu Prematur untuk dijalankan. 




ada sesuatu yang terus menerus mencurigakan datang dari kedua belah pihak untuk saling adu argumentasi bukan Prestasi. lebih banyak membahas tentang nada-nada kebencian yang terus saja bergulir, salah sedikit langsung di jadikan bahan koreksi, salah sedikit langsung dijadikan bulan-bulanan yang sangat heboh. diantara nada-nada kebencian itu jelas terlihat dalam narasi dan retorika, pengucapan yang akan disampaikan oleh politisi yang berasal dari suatu kubu. ketika akan mengajak masa untuk ke arah yang dianggap benar, maka orang tidak akan benar-benar mengikuti kebenaran itu.


Kita sama-sama tahu bahwa rakyat sudah cerdas mendefenisikan sebuah pergerakan yang ujungnya akan mau dibawa kemana. bahkan saking cerdasnya rakyat sudah  mulai muak dengan keadaan yang sepertinya sama saja seperti biasanya, korupsi dimana-mana, uang dengan mudah di putar-putar (Entah kayak putaran gasing gak tau lah ya haha). tapi secara pasti bahwa masih ada harapan untuk kita bayangkan perubahan yang sedemikian lama terwujudnya. 


itulah saja. 

semenjak akan membahas ini penulis sadar bahwa keadaan mungkin tidak akan berubah, namun kondisi pikiran sudah dalam keadaan lega.
jika ini tidak begitu fasih secara logika, ya minimal mudah-mudahan bisa di terawang kata demi kata. 

Sekian dulu bentuk kegelisahan ini kami uraiakan lebih dan kurang mohon maaf.





























No comments

Theme images by Jason Morrow. Powered by Blogger.