Hal yang
menyenangkan dari urusan hati
Adalah mempertahankan
hal yang sangat kita senangi.
Tentang sesuatu yang membangkitkan segala selera,
Sebuah jalan keluar dari kesedihan.
Tapi berbeda untuk kali ini.

Rindu, hal yang pertama dirasa saat melihatmu diantara
engkau yang masih dalam tanda tanya di hati "siapa dia".
Aku dilingkari indahnya lensa mata itu,
Gravitasi seakan menarik langkah yang tidak
mau berpindah tempat sedetikpun dari tatapan itu.
Kau terperinci di hati, khusu' ku terganggu oleh senyuman
yang tidak kau sadari tapi ku ingat hingga kini.
Dan, diri tidak ingin tahu apa yang seharusnya dia tahu.
Itulah.
Sadar atau tidak sadar ini seperti dipermainkan waktu,
dikelilingi rasa yg hanya aku sendiri menyebut ini ambigu.
Aku Stagnan, menaiki hal yg sepertinya tak bisa berjalan.
Namun ada sesuatu yg menjanggal,
seolah menyuruh semangatku tetap tinggal.
Jika memang tak bisa berjalan lalu kenapa aku bisa bergerak maju pelan-pelan,
Jika memang tak bisa berjalan lalu kenapa aku semakin erat berpegang.
Ada bunga yg membuat mata jarang terpejam,
membuat hati lesuh menjadi gerindang.
Sungguh aku ingin memetik bunga itu,
Sungguh aku ingin bunga itu.
Tapi apalah daya,
Kepala ini kembali memalingkan muka,
karena ternyata mata tak sanggup berada diantara pandangan
Yang telah menetap lama disana.
Sampai pada saat
Kucoba ikuti aturan main
dengan melihat kamu disisi lain,
Acuhku bicara saat dikalahkan pesona,
Lompatku tinggi walau tahu dibawah berduri,
Seakan fasih melafalkan niat
Tapi enggan maju karena terhalang panjangnya harkat.
Sanjungku berubah tak terarah,
tapi untung sanggupku inshaallah istiqomah.
Namun,
Aku bukan saja telah bermain air hingga seluruhnya basah,
tapi juga telah bermain api sampai akhirnya hangus.
Ter dramatisir oleh cerita yg dibuat sendiri,
yang seharusnya menjadi pengendali kini jadi sang pendiam
yang tidak tahu cara menghapus rindu yang tumbuh tanpa di tanam itu.
Masih ingin mencari celah keluar dari ini,
mencoba untuk tidak terjebak dari hati penuh ombak, tidak ingin terjebak oleh keadaan.
Setelah terlihat dengan mata,
sampai benar-benar percaya
bahwa rindu hanya sepanjang jemari.
melihat sendiri yang tak ingin kuketahui,
Akhirnya
Semua yang terjadi di syukuri,
jika tidak ceritaku akan habis sampai disini.
akhirnya kutemukan ia yang selama ini mengusik khawatir tanpa jeda,
rinduku yang sejauh ini selalu bersamamu,
setidaknya ia pernah melihat matamu menjadi hujan,
dan setidaknya kaidah diri dalam mencintai bisa tersenyum saat-saat paling getir.
Aku
Bukan bersedih karena telah mencintaimu,
yang kusedihkan adalah kurang beruntungnya "aku"
dalam menemukanmu kala itu.
Aku permisi pamit,
Terima kasih untuk kebersamaan itu,
terima kasih telah membukakan pintu,
terima kasih atas hidangan rindu yang tersedu dalam kopiku,
terima kasih atas waktu.
kini aku pamit, semoga kau sehat selalu dan bahagia.
Tapi berbeda untuk kali ini.

Rindu, hal yang pertama dirasa saat melihatmu diantara
engkau yang masih dalam tanda tanya di hati "siapa dia".
Aku dilingkari indahnya lensa mata itu,
Gravitasi seakan menarik langkah yang tidak
mau berpindah tempat sedetikpun dari tatapan itu.
Kau terperinci di hati, khusu' ku terganggu oleh senyuman
yang tidak kau sadari tapi ku ingat hingga kini.
Dan, diri tidak ingin tahu apa yang seharusnya dia tahu.
Itulah.
Sadar atau tidak sadar ini seperti dipermainkan waktu,
dikelilingi rasa yg hanya aku sendiri menyebut ini ambigu.
Aku Stagnan, menaiki hal yg sepertinya tak bisa berjalan.
Namun ada sesuatu yg menjanggal,
seolah menyuruh semangatku tetap tinggal.
Jika memang tak bisa berjalan lalu kenapa aku bisa bergerak maju pelan-pelan,
Jika memang tak bisa berjalan lalu kenapa aku semakin erat berpegang.
Ada bunga yg membuat mata jarang terpejam,
membuat hati lesuh menjadi gerindang.
Sungguh aku ingin memetik bunga itu,
Sungguh aku ingin bunga itu.
Tapi apalah daya,
Kepala ini kembali memalingkan muka,
karena ternyata mata tak sanggup berada diantara pandangan
Yang telah menetap lama disana.
Sampai pada saat
Kucoba ikuti aturan main
dengan melihat kamu disisi lain,
Acuhku bicara saat dikalahkan pesona,
Lompatku tinggi walau tahu dibawah berduri,
Seakan fasih melafalkan niat
Tapi enggan maju karena terhalang panjangnya harkat.
Sanjungku berubah tak terarah,
tapi untung sanggupku inshaallah istiqomah.
Namun,
Aku bukan saja telah bermain air hingga seluruhnya basah,
tapi juga telah bermain api sampai akhirnya hangus.
Ter dramatisir oleh cerita yg dibuat sendiri,
yang seharusnya menjadi pengendali kini jadi sang pendiam
yang tidak tahu cara menghapus rindu yang tumbuh tanpa di tanam itu.
Masih ingin mencari celah keluar dari ini,
mencoba untuk tidak terjebak dari hati penuh ombak, tidak ingin terjebak oleh keadaan.
lalu
Sejengkal percobaan mundur diterapkan,
tapi tak berpengaruh oleh hati yang kian lama makin tak mau luntur.
sampai sentilan sebuah lirik "bayangan matanya manghancurkan jiwa" terdengar begitu renyah di telinga, sepertinya lirik itu emang layak untuknya
hingga kini
aku masih sebatas perindu yang lugu,
dan mengunggu itu hilang. sampai aku tenang.
Nyatanya
dan mengunggu itu hilang. sampai aku tenang.
Nyatanya
Setelah terlihat dengan mata,
sampai benar-benar percaya
bahwa rindu hanya sepanjang jemari.
melihat sendiri yang tak ingin kuketahui,
Akhirnya
Semua yang terjadi di syukuri,
jika tidak ceritaku akan habis sampai disini.
akhirnya kutemukan ia yang selama ini mengusik khawatir tanpa jeda,
rinduku yang sejauh ini selalu bersamamu,
setidaknya ia pernah melihat matamu menjadi hujan,
dan setidaknya kaidah diri dalam mencintai bisa tersenyum saat-saat paling getir.
Aku
Bukan bersedih karena telah mencintaimu,
yang kusedihkan adalah kurang beruntungnya "aku"
dalam menemukanmu kala itu.
Aku permisi pamit,
Terima kasih untuk kebersamaan itu,
terima kasih telah membukakan pintu,
terima kasih atas hidangan rindu yang tersedu dalam kopiku,
terima kasih atas waktu.
kini aku pamit, semoga kau sehat selalu dan bahagia.
No comments:
Post a Comment
Silahkan berkomentar